====SELAMAT DATANG====

Kamis, 02 Juli 2015

Posted by melawan rindu |
Siang teman-teman sebangsa dan senegara, siang kali ini ane mau bagikan contoh soal plus jawabannya untuk soal2 yang berkaitan dengan peralatan lab klinik lanjut khususnya untuk Teknik Elektromedik Area.
Langsung saja berikut materi soalnya....

SOAL ABO tester

SOAL Blood Glucose

SOAL Blood Warmer

SOAL Haemofuge

SOAL Turbidimeter

SOAL Spektrofotometer

Selamat BELAJAR.....

Selasa, 26 Mei 2015

Posted by melawan rindu |
Download rangkaian disini. File rangkaian dalam format .pcb dapat dibuka dengan menggunakan software PCB Wizard. Jika belum punya software nya bisa download disini.

Sismin ini bisa juga menggunakan ATmega 8535. Selain itu kami belum mencobanya. Sekian semoga bermanfaat.



Rabu, 29 April 2015

Posted by melawan rindu |
Download materinya disini


Posted by melawan rindu |
Adek-adek yang saat ini sudah melaksanakan UN yang beberapa orang memandang UN itu serem dan kemudian akan lanjut ke tahap berikutnya yaitu ujian masuk perguruan tinggi, kakak doakan deh agar tercapai keinginan dan harapannya amiiin... loh loh kok ckckck.

Ada saatnya kalian bingung memilih jurusan atau fakultas atau kampus yang tepat untuk diri kalian masing-masing. Kali ini kakak kenalin nih yang namanya ELEKTROMEDIK. Baru denger hari ini ya, terasa asing mungkin bagi kalian. Yap benar, 90 % anak SMA dan setara memang belum tahu apa itu elektromedik, kecuali kalau sudah dikasih tau temannya, bokapnya atau saudaranya.

Memang sekitar 80 % orang-orang yang kuliah di jurusan ini diberitau dari saudaranya atau kerabat dekat bahwa ada lho jurusan yang kece kayak gini ni... Widiiih. Apa sih yang dipelajari di jurusan ini?

1. Elektronika Dasar

Sudah ketahuan dari namanya, pastinya jurusan elektromedik ada sangkut pautnya dengan elektronika. Adek-adek yang seneng elektronika bisa ngembangin bakatnya disini. Nanti bisa kenalan sama yang namanya dioda, resistor, kapasitor, led, potensiometer, IC, molex, transistor, trafo dan lain sebagainya yang pastinya bakal seru deh.

2. Peralatan Medis
Bagian ini lebih keren lagi. Jadi tujuan belajar elektronika disini akan diaplikasikan langsung ke peralatan medis yang dalemannya berisi komponen terpadu yang membentuk suatu sistem sehingga dapat melakukan kerja tertentu. Contohnya banyak sekali. Untuk memudahkan maka peralatan medis ini dikelompokkan ke beberapa bidang.

- Peralatan Laboratorium Klinik
  Contohnya : Waterbath, Incubator Amoeba, Spectrofotometer, Turbidimeter, ABO tester,    Centrifuge, Haemofuge, Timbangan Analitik, pH Meter dan lain sebagainya.

- Peralatan Diagnostik
  Contohnya : ECG (Electro Cardiograph), USG (Ultrasound Graph).

- Peralatan Life Support and Life Saving
 Contohnya : Baby Incubator, Syringe Pump, Infusion Pump, Nebulizer, Ventilator dan lain sebagainya.

- Peralatan Kalibrasi
 Contohnya : Lux Meter, Tachometer, Safety Analyzer dan lain sebagainya.

- Peralatan Bedah dan Anastesi
  Contohnya : Mesin Anastesi, Electro Surgery, Electro Cauter, Autoclave, Operation Lamp, Operation Table, Endoscopy dan lain sebagainya.

- Peralatan Mata
  Contohnya : Opthalmoscope, ACP (Automatic Chart Projector), Tonometer, Snellen Chart, Ishihara Projector dan lain sebagainya.

- Peralatan Terapi
  Contohnya : Blue Light, UV Light, Parafin Bath, SWD, MWD dan lain sebagainya.

- Radiologi
  Contohnya : Pesawat Rotgen Konvensional, Pesawat Rontgen Condensator Discharge, Pesawat  Rontgen Frekuensi Tinggi.

Jadi bagaimana? Tertantang untuk mempelajari alat demi alat? Jadi tunggu apa lagi, silakan bergabung dengan kami di jurusan Teknik Elektromedik Poltekkes Kemenkes Jakarta II. 

"Nanti kerjanya ngapain kak?"

Untuk masalah pekerjaan tidak perlu terlalu dipikirkan. Setiap rumah sakit pasti membutuhkan tenaga elektromedis. Bisa kita bayangkan berapa banyak rumah sakit di Indonesia ini??? Sedangkan jurusan elektromedik ini masih dibilang sedikit. Ada sekitar 10 kampus yang ada jurusan elektromedik di indonesia. Secara otomatis nanti kerjanya pasti menangani peralatan medis apabila terjadi kerusakan. Keren kan..
Selain di rumah sakit bisa bekerja di perusahaan yang bergerak di bidang distributor maupun maintenance peralatan medis, seperti SIEMENS, PHILIP, PT TAWADA HEALTCARE, PT CALIBRAMED dan masih banyak lagi lainnya. Di tahun mendatang seorang lulusan elektromedis akan ditempatkan juga di beberapa PUSKESMAS tapi yang ini masih berupa wacana. 

Selain peluang lapangan kerja yang banyak, lulusan elektromedis per tahun masih dikatakan kurang untuk mencukupi lapangan pekerjaan yang ada loh guys, jadi tunggu apa lagi...

Let's join us, together is better than alone hehe :)

Posted by melawan rindu |
Seorang yang belajar elektronika dasar pasti berjumpa dengan satu komponen ini yaitu RESISTOR. Tidak boleh tidak, mau tidak mau pasti akan mengenal komponen yang bisa dibilang kecil lonjong imut berwarna seperti yang kita pikirkan saat ini detik ini juga, ah dah kelewat detiknya, nah kan dah kelewat lagi. Waktu berjalan terus men, haha.

Resistor memiliki kode unik untuk mengetahui berapa nilai hambatan yang dinyatakan dalam satuan Ohm. Kode unik tersebut terletak pada warna gelang yang menempel erat tak terpisahkan pada body resistor itu sendiri.

Kali ini saya akan menunjukkan program untuk memudahkan dalam pembacaaan nilai suatu resistor dengan menggunakan bahasa C++. Untuk software nya bisa menggunakan Dev-Cpp yang bisa dengan mudah kita dapatkan di dunia yang canggih ini.

Berikut syntax programnya, semoga bermanfaat :)


#include<stdio.h>
int main(void)
{
    int a,b,c,d,coba;
    float e,f;
NEW:
system ("color a");
 
    printf("\t---------------------------------------------------------\n");
    printf("\t                 WELCOME TO MY PROGRAM\n");
    printf("\t               DESIGNED BY DANANG SETIADI\n");
    printf("\t---------------------------------------------------------\n");
    printf("\t       PROGRAM PERHITUNGAN NILAI RESISTOR 4 GELANG\n");
    printf("\t---------------------------------------------------------\n");
    printf("\t| Hitam         = 0         |\n");
    printf("\t-----------------------------\n");
    printf("\t| Coklat        = 1         |\n");
    printf("\t-----------------------------\n");
    printf("\t| Merah         = 2         |\n");
    printf("\t-----------------------------\n");
    printf("\t| Orange        = 3         |\n");
    printf("\t-----------------------------\n");
    printf("\t| Kuning        = 4         |\n");
    printf("\t-----------------------------\n");
    printf("\t| Hijau         = 5         |\n");
    printf("\t-----------------------------\n");
    printf("\t| Biru          = 6         |\n");
    printf("\t-----------------------------\n");
    printf("\t| Ungu          = 7         |\n");
    printf("\t-----------------------------\n");
    printf("\t| Abu-abu       = 8         |\n");
    printf("\t-----------------------------\n");
    printf("\t| Putih         = 9         |\n");
    printf("\t-----------------------------\n");
    printf("\t| Emas          = 5 persen  |\n");
    printf("\t-----------------------------\n");
    printf("\t| Silver        = 10 persen |\n");
    printf("\t-----------------------------\n");
    printf("\t| Tak berwarna  = 20 persen |\n");
    printf("\t--------------------------------------------------------\n");
    printf("\t      Masukkan nilai kode warna sesuai yang diatas\n");
    printf("\t     Untuk gelang keempat tulis tanpa simbol persen\n");
    printf("\t--------------------------------------------------------\n");
    printf("\t Nilai warna gelang pertama = "); scanf("%d",&a);
   
        switch(a) {
              case 0:case 1:case 2:case 3:case 4:case 5:case 6:case 7:case 8:case 9:
                   goto DUA;
                   break;
              default: system ("color 0c");
                       printf("\t--------------------------------------------------------\n");
                       printf("\t       MOHON MAAF DATA INPUT TIDAK DAPAT DIPROSES\n");
                       printf("\t--------------------------------------------------------\n");
                       goto AKHIR;
                       }
DUA:
    printf("\t Nilai warna gelang kedua   = "); scanf("%d",&b);
    switch(b) {
              case 0:case 1:case 2:case 3:case 4:case 5:case 6:case 7:case 8:case 9:
                   goto TIGA;
                   break;
              default: system ("color 0c");
                       printf("\t--------------------------------------------------------\n");
                       printf("\t       MOHON MAAF DATA INPUT TIDAK DAPAT DIPROSES\n");
                       printf("\t--------------------------------------------------------\n");
                       goto AKHIR;
                       }        
TIGA:
    printf("\t Nilai warna gelang ketiga  = "); scanf("%d",&c);
    switch(c) {
              case 0:case 1:case 2:case 3:case 4:case 5:case 6:case 7:case 8:case 9:
                   goto EMPAT;
                   break;
              default:
                       system ("color 0c");
                       printf("\t--------------------------------------------------------\n");
                       printf("\t        MOHON MAAF DATA INPUT TIDAK DAPAT DIPROSES\n");
                       printf("\t--------------------------------------------------------\n");
                       goto AKHIR;
                       }  
EMPAT:
    printf("\t Nilai warna gelang keempat = "); scanf("%d",&d);
    switch(d) {
              case 5:case 10:case 20:
                   goto LIMA;
                   break;
              default: system ("color 0c");
                       printf("\t--------------------------------------------------------\n");
                       printf("\t       MOHON MAAF DATA INPUT TIDAK DAPAT DIPROSES\n");
                       printf("\t--------------------------------------------------------\n");
                       goto AKHIR;
                       }  
LIMA:
    printf("\t--------------------------------------------------------\n");
   
    e=(((a*10)+b)*pow(10,c))+(((a*10)+b)*pow(10,c)*d/100);
    f=(((a*10)+b)*pow(10,c))-(((a*10)+b)*pow(10,c)*d/100);
   
    printf("\t Nilai maksimum resistor = %.2f\n",e);
    printf("\t Nilai minimum resistor  = %.2f\n",f);
    printf("\t--------------------------------------------------------\n");
    printf("\t    Jika nilai ukur pada Multitester melebihi %.2f\n",e);
    printf("\t              atau kurang dari %.2f\n",f);
    printf("\t         maka resistor Anda selayaknya dibuang\n");
    printf("\t--------------------------------------------------------\n");
AKHIR:
    printf("\tTry again?\n");
                    printf("\t1.Yes\n\t2.Exit\n");
                    printf("\tPilih = ");scanf("%d",&coba);
                    switch(coba) {
                                 case 1: system("cls");goto NEW; break;
                                 case 2: goto END; break;
                                 default: printf("\t <-- INPUT ERROR --> "); }
   
   
               
               
END:
exit(1);
    getch();
}
    
   


Kamis, 11 Desember 2014

Posted by melawan rindu | File under : , , ,
LAPORAN PRAKTIKUM ELEKTRONIKA TERAPAN
“SIMULASI RANGKAIAN PENGHITUNG JUMLAH FILM
YANG TELAH DIPROSES”




Disusun oleh:
1.      Agastyo Gumelar             P2.31.38.0.13.037
2.      Arie Cahya Buntara          P2.31.38.0.13.041
3.      Danang Setiadi                 P2.31.38.0.13.042
4.      Fajri Ariesco Putra           P2.31.38.0.13.047
5.      I Gusti Made Kharisma    P2.31.38.0.13.050

Dosen Pembimbing: Drs. Adisman, BE


D3 TEKNIK ELEKTROMEDIK
POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES JAKARTA II
2014


A.    Tujuan
1.    Agar mahasiswa dapat mengenal  proses kerja dari simulasi rangkaian penghitung jumlah film dan dapat memberikan catu daya dengan benar.
2.    Agar mahasiswa dapat mengamati serta memahami proses yang terjadi pada simulasi rangkaian penghitung jumlah film yang telah diproses.
3.    Agar mahasiswa dapat merancang serta menganalisa, membuat kesimpulan dan mampu menceritakan proses kerjanya.

B.     Blok Diagram
 


C.    Komponen


1.         IC LM 741
2.         IC 7493
3.         IC 7447
4.         7 segment
5.         Resistor 100
6.         Resistor 1.2 K
7.         Resistor 4.7 K
8.         Resistor 10 K
9.         Resistor 100 K
10.     Capacitor 47 µF












D.    Peralatan
1.    Oscilloscope 2 Channel
2.    Multi meter
3.    Power supply DC
4.    Project board
5.    Kawat jumper

E.       Prosedur
1.    Siapkan alat dan bahan sebelum digunakan.
2.    Rakit rangkaian pada project board seperti pada gambar.
3.    Siapkan oscilloscope dengan dua channel, setting pada coupling DC, posisi oscilloscope pada roll, time/div 1 second, dan volt/div 5 volt.
4.    Atur power supply +5 V dan -5 V, lakukan pengamatan TP1 dengan TP2 secara bersama-sama, lalu TP2 dengan TP3, lalu TP4 dengan TP5 ukur tegangan referensi.

F.       Urutan Percobaan

Percobaan
Pengamatan
I
TP1 & TP2
II
TP2 & TP3
III
TP4 & TP5





G.      Gambar Hasil Percobaan
Percobaan I






  
Percobaan II






Percobaan III









H.    Kesimpulan
1.      Berdasarkan percobaan yang kami buat, rangkaian kami sudah benar secara teori dibuktikan dengan tampilan output berupa 7 segment satu digit yang berjalan normal dari 0 sampai 9 ketika ada trigger dari sensor optocoupler.
2.      Akan tetapi rangkaian ini memang sangat sensitive, jika benda (film) yang masuk ditahan agak lama maka hitungan yang tampil pada 7 segment tidak normal, misal dari 0 langsung ke 4 tidak ke angka 1 terlebih dahulu.
3.      Penyebab keanomalian tersebut mungkin dikarenakan komponen yang digunakan sudah tidak dalam kondisi yang baik.
4.      Dari hasil pengamatan menggunakan oscilloscope sudah dapat kita buktikan bahwa terjadi berbagai macam pulsa yang sudah sesuai dengan teori.

I.         Proses Kerja
Ketika belum ada film yang masuk, cahaya maksimum mengenai photo transistor yang berada di dalam optocoupler. Secara otomatis, basis akan memproses cahaya menjadi arus electron yang akan mengalir dari basis menuju emitter. Begitu juga akan ada arus electron mengalir dari collector ke emitter, sehingga tegangan Vo atau tegangan pada kaki collector mendekati 0 volt.
Ketika film masuk, maka akan tertutup, cahaya LED tidak akan mengenai photo transistor, maka photo transistor tidak akan bekerja. Tidak akan ada arus yang mengalir, maka tegangan Vo atau tegangan pada kaki collector maksimal +5 volt. Maka terjadilah proses pengisian kapasitor. Selama proses pengisian ada arus maju, maka akan muncul tegangan dan lama-lama arus akan habis dan kembali ke 0, berdasarkan proses tersebut maka munculah tegangan sesaat (gelombang pulsa sesaat).
Ketika film lewat (tidak ada film lagi) maka photo transistor bekerja kembali, terjadilah proses pengosongan kapasitor, dan terjadilah pulsa negative sesaat. Yang diproses IC 741 hanyalah pulsa positive.
Ketika ada tegangan sesaat yang masuk ke IC 741 penguat maka akan dikuatkan sebesar 11 kali dengan rumus yang sudah dijelaskan diatas. Munculah tegangan output sesaat pada pin 6 IC 741 penguat. Tegangan ini kemudian akan menjadi tegangan input IC 741 pembanding yang kemudian akan dibandingkan dengan Vreff.  Jika Vin  > Vreff  terjadi tegangan (+) saturasi pada output IC 741 pembanding. Dan sebaliknya jika Vin  < Vreff  terjadi tegangan 0 volt atau (–) saturasi.
Dari output IC 741 pembanding akan masuk ke counter yaitu IC 7493 melalui pin 14. IC 7493 akan bekerja jika mendapat (+) saturasi. Output dari IC 7493 berupa bilangan biner 4 digit. Sebelum ada tegangan yang masuk mula-mula outputnya 0 semua.
Output IC 7493 kemudian akan diproses oleh decoder yaitu IC 7447. Tugas dari decoder disini yaitu merubah kode bilangan biner 4 digit menjadi kode yang bisa diterjemahkan 7 segment menjadi bentuk sebuah angka. Output IC 7447 ini berjumlah 7 yang sesuai dengan jumlah LED pada 7 segment yang membentuk angka.
Kondisi awal saat alat bekerja yaitu tampilan 7 segment angka 0. Berarti bagian LED pada 7 segment yang menyala adalah A, B, C, D, E dan F. Saat film pertama masuk, tampilan 7 segment akan berubah menjadi angka 1. Berarti bagian LED pada 7 segment yang menyala adalah B dan C. Begitu seterusnya sampai muncul angka 9 dan kembali lagi ke angka 0. Proses diatas akan terus berulang-ulang, selama ada proses keluar masuknya film.